Kartini dan Sikap Ilmiah

Kartini dan Sikap Ilmiah

Oleh : Mayadina Rohma Musfiroh



Hari Kartini senantiasa diperingati untuk mengenang sosok perempuan Jawa, cerdas, pemberontak, perseptif, penuh cita-cita pengabdian, ide-idenya tentang dunia sangat futuristic melampaui zamannya, Sosoknya telah banyak diulas diberbagai literature dalam dan luar negeri, dengan berbagai perspektif dan sudut pandang beragam. 


Secara umum, pembacaan tentang Kartini lebih banyak mengungkap tentang ‘sosok’ dibanding ‘pokok’. Masih minim usaha untuk memposisikan pikiran Kartini ditengah kontestasi pemikiran cendekiawan lain di awal abad ke-20 seperti Tan Malaka, HOS Cokroaminoto, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Sutan Takdir Alisyahbana, Syahrir dan lain sebagainya, ketika masyarakat Indonesia sedang menghadapi krisis identitas dan ‘kegalauan’ terhadap modernitas, antara tradisi dan kemajuan, di tengah kondisi kolonial dan semangat pembebasan, realitas agama dan semangat pencerahan (aufklarung). 


Membaca Kartini sebagai ‘pokok’ masih kontekstual dilakukan. Bagaimana Kartini ‘ada dan mewujud’ dalam pikiran generasi setelahnya? Selama ini kita hanya mengenalnya melalui surat-surat atau tulisan tentang riwayat hidupnya. Dalam surat-suratnya, Kartini hadir sebagai persona yang merepresentasikan diri sebagai respon terhadap kultur Jawa di jaman kolonial dengan dinamika dan pergulatan hidup yang serba kompleks. Ia bernegosiasi dengan orang lain dengan menggunakan Bahasa, untuk menyesuaikan dan merubah persepsi, merumuskan identitas serta untuk memilih apa yang dikatakan dan apa yang tidak hendak dikatakannya (to choose wether to say or not to say). 


140 tahun lalu Kartini lahir. Namun Jauh sebelum kelahirannya, Kisah Kartini mengingatkan kita pada kisah-kisah perempuan hebat pada masa awal Islam. 14 abad sebelumnya telah mengemuka sosok-sosok perempuan cerdas dan hebat. Pada zaman Rasulullah terdapat lebih dari 700 sahabat dari kalangan perempuan yang meriwayatkan hadits dari Nabi. Para sahabat perempuan, tidak hanya mempelajari agama, ada yang ikut berperang dan berbisnis. Bahkan beberapa ayat al-Qur’an hadir sebagai respon atas pertanyaan dari seorang perempuan dan situasi yang dialami perempuan saat itu. Salah satunya adalah Khawlah binti Tsa’labah. Ia hanya perempuan biasa namun Allah mendengar aspirasinya. Aus ibn Shamit suami Khawlah telah menggantung status pernikahannya dengan ucapan, “Anti ‘alayya ka dhahri ummy” (Bagiku, kamu seperti punggung ibuku). Ucapan dzihar ini dalam kultur masyarakat arab saat itu bermakna, bahwa Aws telah mengharamkan dirinya menyentuh Khawlah sementara pada saat yang sama Khawlah masih terikat status perkawinan. Khawlah yang merasa diperlakukan tidak adil lantas mengadu kepada Rasulullah. Setelah memohon kepada Allah, tak berselang lama, turunlah surat al Mujadilah yang artinya “Perempuan yang Menggugat”, dimana Allah membuat ketentuan baru mengenai praktik dhihar. Demikian pula pertanyaan Ummu Salamah istri Rasulullah yang mempertanyakan pembagian waris dan peran perempuan dalam berperang. Rasulullah juga mengajak Ummu Salamah bermusyawarah terkait Perjanjian Hudaibiyah antara Islam dan non islam, yang berakhir dengan gemilang. Jauh sebelum Kartini lahir, banyak kiprah perempuan-perempuan cerdas yang kisahnya menjadi ‘alasan’ dibalik turunnya ayat Al-Qur’an.  


14 Abad kemudian, Kartini dihadirkan sebagai fenomena kemanusiaan perempuan. Membaca kehidupan Kartini melalui goresan tintanya, kita akan menemukan hal-hal istimewa. Kartini adalah salah satu bukti sejarah yang menunjukkan bahwa ia manusia kritis, pembelajar dan pribadi yang peka terhadap kondisi sosial ditengah keterbatasan ruang untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa. Secara interpretif -meminjam Istilah ‘Ferdinad De Saussure’- menggunakan ‘Semiotika Signifikansi’, surat-surat Kartini mengandung beberapa signifikansi antara lain; 


Pertama, Ketauhidan sebagai Pondasi Utama (Tauhid as the main foundation). Kartini adalah Persona yang menjunjung tinggi nilai tauhid dan memiliki spiritual intelligence. Dalam salah satu suratnya Ia mengatakan, “Jalan menuju Allah dan jalan ke arah kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia manapun, ia sebenar-benarnya bebas” (RA. Kartini, 1903). Dalam Bahasa Sayyid Qutb digambarkan sebagai at-taharrur al-wijdany al-muthlaq (pembebasan jiwa yang mutlak). Kartini (menurut Pramudya Ananta Toer) adalah sosok religious, tanpa berpegang pada bentuk-bentuk keibadahan atau syari’at, dimana Tuhan dipahami sebagai sumber hidup yang mengikat setiap orang dengannya, tak peduli apapun agama yang dianut. Dalam perjalanannya, spiritualitas Kartini terasah melalui perjumpaannya dengan KH. Sholeh Darat, ulama Nusantara yang membuatnya kagum saat menguraikan makna surat al-Fatihah. 


 Kedua, Menjunjung tinggi nilai kesetaraan (equality, al-musawah, emansipasi) dan kemanusiaan. Ia mengungkapkan, “Agama dimaksudkan supaya memberi berkah, untuk membentuk tali silaturrahim antara semua makhluk Allah, berkulit putih ataupun cokelat, tak pandang pangkat perempuan atau laki-laki, kepercayaan, semuanya kita ini anak Bapak seorang itu, Tuhan YME !. “Laki-laki dan perempuan jadi saudara harus saling mencintai yaitu menolong dan membantu, Saling menolong, membantu serta saling mencintai, itulah dasar segala agama”. “Meski agama itu baik, tapi yang membuat kami tidak menyukai agama, bahwa para pemeluk agama yang satu menghina, membenci bahkan kadang-kadang mengejar-ngejar pemeluk agama lain”. ..”Agama yang seharusnya menjauhkan kita dari perbuatan dosa, justru menjadi alasan yang sah kita berbuat dosa…”.  Kartini mengecam tindakan yang tidak mencerminkan kasih sayang (dalam konteks hari ini, menebar kebencian) dengan menggunakan kedok agama, yang dilakukan para pemeluk agama. Nilai kesetaraan, persamaan dan kemanusiaan/persaudaraan masih sangat relevan kita gelorakan ditengah menguatnya fundamentalisme agama dan Islamisme yang berpotensi memecah belah bangsa. 


Ketiga, Mengembangkan sikap ilmiah. Narasinga Rao (1989) menyatakan bahwa sikap ilmiah yang paling penting adalah pikiran terbuka, pikiran kritis, penghormatan terhadap bukti, penilaian yang ditangguhkan, kejujuran intelektual, kesediaan untuk mengubah pendapat, mencari kebenaran, keingintahuan, pemikiran rasional. Surat-surat Kartini menyiratkan embrio sikap-sikap ilmiah seperti open-minded, critical, curiosity, semangat mencari pengetahuan, bersikap rational. Sikap-sikap inilah yang dibutuhkan pada masa sekarang, pada era disruptif dimana terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat serta berpotensi mencerabut akar. Dalam dunia akademik sikap-sikap ilmiah perlu terus dikembangkan untuk menghasilkan inovasi dan terobosan penting dibidang ilmu pengetahuan. Selaras dengan tesis Howard Gardner (2007) bahwa terdapat 5 jenis kemampuan berpikir yang penting untuk masa depan :

1. Disciplined mind : Terdisiplin. Menguasai satu disiplin ilmu tertentu seperti sains, matematika, agama dan ketrampilan tertentu. 

2. Synthesizing mind : Menyintesis. Mampu mengintegrasikan ide dari berbagai disiplin ilmu menjadi satu kesatuan untuk dikomunikasikan pada oranglain 

3. Creating mind : Mencipta. Mampu menemukan dan menjelaskan masalah, persoalan, serta fenomena baru. 

4. Respectful mind : Menghargai. Sadar dan menghargai perbedaan diantara manusia atau kelompok tertentu 

5. Ethical mind : Bertanggung jawab sebagai individu, pekerja dan warga negara. 


Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari pokok-pokok pikiran dan spirit RA. Kartini. Selamat Hari Kartini. 





Admin FSH

Komentar